Profile
Tristan Rafel Nainggolan
|
 |
Friday, January 07, 2005
Tumbuh Gigi, Bicara, Jalan
Jalan, tumbuh gigi, dan bicara, punya masa perkembangan tersendiri meski kadang berjalan bersamaan.
Sering orang tua beranggapan, anak harus jalan dulu baru bisa bicara. Atau jika giginya muncul duluan, berarti kemampuan berjalannya muncul belakangan. Yang mana, sih, yang benar? "Ah, semua itu cuma mitos. Mungkin karena kebetulan saja giginya tumbuh lebih awal, baru bisa jalan," kata Drg. Rachmatiah B, dari RS Gatot Subroto Jakarta. Hal senada diungkapkan dr. Waldi Nurhamzah, SpA dari FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta. "Semua itu harusnya dikembalikan pada konsep perkembangan yang dilalui anak."
Pada anak, tonggak-tonggak perkembangan yang penting terbagi dalam beberapa bagian besar. Antara lain perkembangan bahasa, psikososial, dan motorik. Perkembangan motorik dibagi lagi menjadi motorik kasar dan halus. "Kelihatan, kan, bahasa dan berjalan merupakan perkembangan yang terpisah, bukan dalam satu kelompok," kata Waldi.
Berjalan masuk perkembangan motorik kasar, seperti halnya perkembangan berdiri, tegak dan melangkah. Jadi, kalau dibuat suatu garis perkembangan, masing-masing kelompok punya rentang waktu perkembangan sendiri-sendiri. Karena itulah tak bisa disimpulkan, jika kemampuan bicara muncul lebih dulu, maka berjalannya belakangan atau sebaliknya. "Bisa saja keduanya berlangsung berdekatan. Jadi, enggak bisa dikatakan, mana yang lebih dulu, jalan atau bicara karena memang keduanya tidak bisa diperbandingkan."
Masing-masing berasal dari garis perkembangan berbeda dan punya tenggang waktu sendiri-sendiri, yaitu kapan paling cepat dan kapan paling lambat. Misal dalam hal bersuara riang, ada bayi yang di usia 1 bulan sudah dapat melakukannya. Padahal, biasanya baru pada umur 7 minggu bayi bisa melakukannya. Contoh lain, meraih barang rata-rata bisa dilakukan pada usia 5 bulan.
LEWAT WAKTU, BERARTI ADA MASALAH
Yang jelas, dalam setiap tonggak perkembangan terdapat perubahan fungsi-fungsi otak. Yang tadinya belum bisa dilakukan oleh seorang anak, kini bisa. Itulah yang membedakan apakah suatu perkembangan dianggap sebagai tonggak atau bukan.
Menurut Waldi, berjalan dan bicara termasuk bagian dari tonggak perkembangan. Tak demikian halnya dengan tumbuh gigi. Cepat-lambatnya kemunculan gigi susu, tidak bisa dijadikan pedoman utama dalam melihat perkembangan anak. Hanya saja umumnya peristiwa kemunculan gigi sering dijadikan taksiran kasar usia anak. Misalnya, untuk anak usia 1 tahun, jumlah minimal giginya 2 buah.
Bagi orang tua dan juga terutama dokter, yang penting diketahui adalah batas akhir dari setiap perkembangan. Kalau lewat dari tenggang waktu yang dianggap normal dan anak belum bisa berjalan atau bicara, berarti ada masalah. "Makanya proses perkembangan ini harus dipantau oleh dokter dan juga orang tua sejak awal. Tanyakan selalu perkembangan anak kepada dokter atau petugas kesehatan yang berwenang. Saat ke klinik, jangan hanya untuk imunisasi dan mengukur BB serta TB saja, tapi juga tahap perkembangannya," saran Waldi.
Meski berjalan dan bicara bukan dalam satu kelompok yang sama, tapi dalam hal stimulasi, keduanya harus terus berjalan bersama sesuai dengan tahapan masing-masing. Jika stimulasi dilakukan satu per satu, misalnya anak tak diajari bahasa dan hanya motorik, "Mungkin nantinya dia terlambat bicara." Seorang anak dikatakan mengalami keterlambatan bila dia belum mencapai suatu kemampuan tertentu pada batas akhir dari range yang ditentukan. Untuk keterlambatan bicara, bisa diketahui dari keterlambatan menyusun kata yang bermula dari keterlambatan menguasai kata dan sebelumnya dari keterlambatan mengeluarkan suara. Harusnya, di usia 12 bulan, rata-rata bayi sudah bisa mengucapkan 5-10 kata. Stimulasi berbahasa ini sendiri sudah bisa dilakukan sejak janin mampu mendengar.
Itulah, kata Waldi, pentingnya orang tua memahami range atau tenggang waktu dari tiap perkembangan sehingga stimulasi bisa dilakukan di waktu yang sesuai. Misalnya, tahu kapan anak bisa berdiri dan berjalan. Sebab, kalau dilakukan sebelum waktunya akan sia-sia saja. Contohnya, usia berjalan memiliki range sekitar usia 9-15 bulan.
Jika bayi dilatih sejak usia 2 bulan, maka mustahil membawa hasil. Bisa-bisa pertumbuhan kakinya malah terganggu.
BABY WALKER & JINJIT
Masih soal perkembangan berjalan, anak tak selalu harus mengalami proses merangkak sebelum bisa jalan. Sebab, kata Waldi, merangkak bukan merupakan salah satu tonggak perkembangan seperti halnya tengkurap, duduk, berdiri, dan berjalan. "Bisa saja bayi yang sudah masuk tahap duduk, langsung masuk ke tahap berdiri. Merangkak itu pun tak perlu dilatih karena kemampuan ini berkembang dari sikap telungkup dan gerakan keempat anggota tubuhnya (lengan dan tungkai) untuk bisa membuat langkah terkordinasi."
Saat masuk usia berjalan, orang tua lebih disarankan menatih anak dibanding menggunakan baby walker. Alat ini hanya membuat orang tua malas. Untuk anak pun, tidak terlalu baik. Di baby walker, bayi mengayuh atau melangkahkan kakinya sehingga tak bisa diramalkan, kapan bayi betul-betul bisa mengayuhkan kakinya dengan kecepatan lambat atau cepat. Padahal, di rentang usia berjalan dari 9-15 bulan itu, tak mungkin kita mengawasinya setiap saat. Lalai beberapa detik saja, mungkin ia sudah "lari" dengan baby walkernya lalu menabrak sesuatu dan terbalik. Kemungkinan terjadinya trauma atau kecelakaan sangat besar. "Boleh saja pakai baby walker, tapi orang tua harus tetap ada di samping anak sambil memegangi keretanya. Memang lebih sulit dibanding menatih."
Selain itu, dengan baby walker anak jadi tidak menggunakan otot panggulnya secara optimal, karena dia hanya mengayuh sambil duduk. Sementara untuk berjalan, diperlukan keseimbangan otot-otot panggul. "Jadi, menatih lebih baik untuk melatih anak berjalan." Caranya, bisa dengan menggunakan selendang yang diikatkan seperti ransel di badannya agar orang tua bisa mengendalikan gerakan anak. Bisa juga dengan memegang bagian bawah ketiaknya. Lalu lihat perkembangannya. Jika anak semakin mampu, pegang lengan atasnya, kemudian lengan bawah, dan tangannya, sampai kemudian bisa dilepas sendiri. Tak ada patokan harus berapa lama menatih anak. Orang tua harus memperhatikan sendiri pola perkembangan anaknya dari hari ke hari.
Hal penting lainnya, orang tua harus curiga jika di usia belajar jalan, si anak ternyata masih jinjit. Seharusnya di usia 9 bulan, jinjit sudah menghilang. Kemungkinan, ada gangguan di fungsi otaknya. Sementara otaklah yang mengatur kemampuan motorik otot kaki agar seimbang. Dedeh Kurniasih. Foto Iman Dharma S/Nakita
|
Serba Serbi Pertumbuhan Gigi
Pertumbuhan gigi tak bisa dirangsang dengan obat-obatan. Apalagi jika memang tidak ada benihnya. Sementara pada anak usia ini sangat tidak dianjurkan menggunakan sinar X untuk mengetahui ada tidaknya benih itu. "Lebih baik tunggu gigi muncul sampai usia berapa pun," saran Waldi.
Normalnya, gigi bayi mulai tumbuh di usia 6-7 bulan, yaitu 2 buah gigi depan bawah. Beberapa bulan kemudian, 2 buah gigi depan atas. Setelah itu gigi bawah di sebelahnya, kemudian bagian belakang. Sampai usia 1 tahun, jumlah gigi bervariasi pada setiap bayi. Mungkin ada yang 4 buah atau 8 buah. "Tergantung pada pola tumbuh gigi, faktor keturunan, serta gizi," jelas Rachmatiah. Sampai usia 2 tahun, biasanya gigi anak sudah komplet sebanyak 20 buah, yaitu 10 di atas dan 10 di bawah.
Tumbuhnya gigi dipengaruhi pula oleh faktor keturunan. Mungkin salah satu orang tuanya punya sifat resesif atau tidak dominan dalam hal pola tumbuh gigi yang lambat sehingga dalam satu keluarga, mungkin saja satu anak memilikipertumbuhan gigi yang normal dan anak lainnya terlambat.
Sebetulnya, pembentukan gigi bayi sudah dimulai sejak dalam kandungan, yaitu di usia kehamilan 6 minggu, berupa benih gigi. Bila orang tua ingin gigi susu anaknya bagus, sewaktu hamil gizi ibu harus bagus. Ini bisa didapat dari sumber makanan seperti susu, sayuran dan buah. Setelah bayi lahir, gizi yang masuk tak berpengaruh lagi pada pertumbuhan gigi susunya karena sudah terbentuk. Namun, gizi pasca lahir ini akan berpengaruh pada gigi tetapnya nanti.
Anak yang sering sakit, pertumbuhan giginya lambat. Begitu pula jika bayi malas mengisap karena gerakan otot mulut sebetulnya merangsang pertumbuhan gigi. Andai gigi anak terlambat muncul sementara usianya mengharuskan dia makan makanan padat, jangan hentikan pemberiannya. Anak bisa mengunyah makanan lembut dengan gusi yang sudah beradaptasi. Malahan, mengunyah makanan semi padat dan padat akan merangsang pertumbuhan gigi anak, dengan catatan memang ada benih giginya. Yang penting, ikuti saja proses alamiah kemampuan pencernaannya seiring pertambahan usia.
Dedeh |
|
|
|
|
Rewel & Demam Saat Gigi Muncul
Macam-macam reaksi bayi saat giginya tumbuh. Ada yang jadi rewel, ngeces melulu, demam, atau biasa saja. Semua tergantung dari daya tahan tubuh masing-masing anak. Kalau daya tahan tubuhnya kurang atau sensitif, anak bisa demam dan rewel.
Yang terjadi pada saat gigi susu muncul adalah gusinya pecah dan menimbulkan rasa sakit serta tak nyaman. Selama itu, gusi akan tampak sedikit kemerahan. Belum lagi kalau kondisi mulutnya tidak bersih, bisa terinfeksi kuman sehingga demamnya berlanjut atau bertambah. Tapi jika daya tahan tubuhnya baik, kondisi mulutnya bersih, gusinya bagus, aktivitas mengunyahnya bagus, maka anak tak akan mengalami gangguan berarti ketika giginya muncul.
Untuk memperkecil risiko gangguan itu, sudah semestinya orang tua menjaga kebersihan mulut anak. Sehabis menyusui atau makan, bersihkan lidah dan gusinya dengan kain kasa yang dibasahi air matang agar tak ada kuman atau jamur yang tumbuh.
Bila anak demam dan orang tua meragukan penyebabnya adalah gigi yang akan muncul, untuk pastinya bawa ia ke dokter anak. Kalau memang masalahnya karena tumbuh gigi, biasanya dokter akan memberi obat penurun panas saja.
Dedeh |
|
|
|
|
Perkembangan Bicara Anak
Menurut psikolog Indri Savitri, perkembangan bahasa si kecil dimulai ketika baru lahir. Mulanya ia berkomunikasi lewat tangisan. Usia 1,5-3 bulan, ia mulai mengeluarkan bunyi-bunyi seperti, "au..." Di usia 6-10 bulan mulai babbling dengan mengeluarkan suara berupa gabungan huruf mati dan hidup seperti, "ma..." atau "ba..." Usia 10-14 bulan mulailah muncul kata, bermakna dan bertujuan. Misalnya, ia akan mengucapkan, "Ma..!" sambil tangannya menunjuk ke suatu objek. Nah, untuk menstimulasi kemampuan bicara ini, orang tua harus rajin mengajaknya bicara, entah sambil bercanda kala menyusui atau di kesempatan lainnya.
Dedeh |
|
|
|
|
Mainan Gigit -Gigitan Tak Wajib
Bayi yang akan muncul giginya biasanya suka menggaruk atau menyentuh bagian mulutnya. Hal itu disebabkan rasa tak nyaman dan mungkin juga rasa gatal yang timbul. Untuk mengatasinya, bayi senang memasukkan apa saja ke mulutnya. Apalagi kalau diberi mainan khusus untuk digigit-gigit sehingga kegiatan itu merangsang pertumbuhan giginya.
Namun, sejauh mana rangsangan tadi berpengaruh, tidak dapat diprediksi. Jadi, penggunaan mainan tadi tidak wajib. Bagaimanapun juga, pertumbuhan gigi bayi tergantung pada pola tumbuhnya. Ada anak yang memang tidak terlalu aktif memasukkan sesuatu ke mulutnya, tapi karena pola tumbuh giginya normal atau cepat, maka giginya pun akan tumbuh dengan baik.
Dedeh |
|
______________________________________________
Posted at 11:17 pm by Inang Tristan
Permalink
Saat si bayi sakit batuk dan pilek, perhatikan apakah napasnya sesak dan cepat. Jika ya, besar kemungkinan ia terkena bronkiolitis.
Bronkiolitis adalah peradangan pada bronkiolus, yaitu cabang saluran napas yang paling kecil dan paling ujung, yang bersambungan dengan alveolus (jaringan paru). "Biasanya, bronkiolitis didahului infeksi saluran napas atas akut, misal, batuk pilek biasa. Proses perjalanan dari batuk pilek biasa hingga menjadi bronkiolitis memakan waktu antara 3-10 hari," papar dr. Darmawan B.S. Sp.A, dari Sub-Bagian Pulmonologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSUPN CM, Jakarta.
Menyoal penyebab bronkiolitis, berdasarkan referensi ilmu kedokteran, dikatakan, utamanya adalah virus. Adapun yang paling banyak menyerang adalah Respiratory Syncytial Virus atau biasa disingkat RSV. Di Indonesia, ungkap Darmawan, pernah dilakukan studi untuk mengetahui secara persis kuman yang paling sering menyebabkan bronkiolitis. Namun karena kemampuan diagnostik di sini terbatas, belum dapat diambil kesimpulan secara akurat.
MIRIP PNEUMONIA
Sayangnya, kita tak mudah mengenali apakah si kecil menderita bronkiolitis atau tidak. Terlebih, penyakit ini pun sulit dibedakan dengan pneumonia (radang paru). "Bahkan, dokter saja sering kesulitan membedakannya," ujar Darmawan.
Masalahnya, sistem pernapasan merupakan satu kesatuan; dari hidung hingga jaringan paru (dari hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan alveolus). Hingga, infeksi di suatu tempat, biasanya akan membuat daerah sekitarnya terkena juga.
Pada pneumonia, yang terkena infeksi adalah adalah alveolus. Nah, di dekat jaringan paru ini terdapat ujung dari saluran napas yang kecil sekali, namanya bronkiolus. Karena letaknya sangat berdekatan, tentunya bila salah satu meradang, sebelahnya akan terkena juga. Inilah yang menyebabkan gejalanya jadi sulit dibedakan.
Yang jelas, pada bronkiolitis terdapat gejala khusus, yakni timbul mengi dan waktu yang diperlukan untuk mengeluarkan napas jadi lebih panjang. Istilah medisnya, ekspirasi memanjang. Selain itu, dari segi umur juga dapat dibedakan, yakni bronkiolitis hanya terjadi pada bayi atau anak yang masih sangat kecil. Perbedaan lain, pneumonia bisa disebabkan virus, bisa juga bakteri.
NAPAS CEPAT DAN SESAK
Untuk itu, saran Darmawan, yang penting orang tua harus memperhatikan jika bayinya sakit batuk pilek dengan disertai demam; apakah napasnya tampak jadi sesak atau frekuensinya jadi cepat? "Kalau ya, harus segera dibawa ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut."
Adapun cara mengetahui cepat-tidak frekuensi napas si kecil, "Kita bisa menghitung apakah dalam satu menit penuh frekuensinya sudah melebihi batas normal." Sebagai patokan, bayi di bawah 2 bulan, tarikan napasnya 60 kali per menit; antara 2 bulan sampai 1 tahun, frekuensinya 50 kali per menit; di atas 1 tahun menjadi 40 kali per menit. Jadi, bila si kecil berusia antara 2 bulan-1 tahun dan frekuensi napasnya 60 kali per menit, harus diwaspadai kemungkinan infeksi saluran napas bawah (bronkiolitis atau pneumonia).
Sementara, napas yang sesak bisa dilihat dari cuping hidung si kecil yang tampak kembang kempis. Atau yang lebih jelas, saat bernapas, dinding dadanya tertarik ke dalam (dalam bahasa medis disebut retraksi subkostal atau chest indrawing). Gangguan napas ini tak boleh dianggap sepele. Sebab, kalau kondisinya berat, bayi bisa jadi biru. Malah yang parah bisa berakibat kematian.
Itulah mengapa, bayi yang menderita bronkiolitis biasanya harus dirawat sampai sekitar 1 minggu. Si kecil boleh pulang dari rumah sakit bila sesak dan demamnya tak ada lagi, dan ia pun bisa makan seperti sedia kala.
"Dalam perawatannya ini, karena dokter pun sulit membedakan antara pneumonia dengan bronkiolitis, maka sulit pula membedakan apakah penyebabnya bakteri atau virus. Karena itu, dalam terapinya diberikan pula antibiotik." Terapi lain yang juga penting adalah yang bersifat menunjang, misal, pada saat akut, anak yang kekurangan oksigen akan segera diberi oksigen. Jika ia panas tinggi, tentu diberikan obat penurun panas.
SAAT TEPAT KE DOKTER
Umumnya, bronkiolitis dapat disembuhkan dengan tuntas asalkan penderita segera dibawa ke dokter sebelum infeksinya meluas dan menjadi berat. Di sinilah pentingnya kewaspadaan orang tua bila anaknya sakit batuk pilek.
Lantas, kapan saat tepat membawa si kecil ke dokter? "Bila sakit batuk-pileknya tak sembuh-sembuh juga dalam 2-3 hari, setelah dicoba diobati sendiri. Kecuali, jika baru 1 hari sudah ada tanda-tanda seperti demam tinggi, lalu napasnya sesak atau cepat, ya, jangan ditunda lagi," papar Darmawan.
Akan halnya demam, perlu dipahami bahwa walaupun biasanya ada, demam ini tak selalu muncul. Demam, kan, sebenarnya merupakan respon tubuh saat melawan infeksi yang terjadi. Nah, ketika tubuh terlalu lemah untuk melawan infeksi, bisa saja tak terjadi demam. Ini terutama dialami bayi-bayi yang masih sangat kecil, yang daya tahannya memang masih sangat lemah. Martin Leman.Ilustrasi:Pugoeh(nakita)
|
Tindak Pencegahan
Menurut Darmawan, sampai saat ini belum ditemukan upaya spesifik untuk mencegah bronkiolitis, misal, dengan vaksinasi tertentu. "Jadi, paling tidak, pencegahannya sama saja dengan mencegah penyakit lain secara umum." Antara lain:
1. Tingkatkan daya tahan tubuh.
Yang pertama dan paling penting adalah dengan upaya meningkatkan daya tahan tubuh seoptimal mungkin. Apalagi jika penyakitnya memang disebabkan virus, maka kunci penyembuhan ada pada daya tahan tubuh sendiri. Tak lain, karena infeksi virus biasanya bersifat self-limiting (sembuh sendiri).
2. Jauhi orang sakit.
Jangan biarkan bayi berdekatan atau bersentuhan dengan orang yang sedang sakit. Bagi orang dewasa, batuk pilek ringan bisa jadi tak terlalu mengganggu. Namun ia lupa penyakitnya bisa menulari orang di sekitarnya, terutama bayi. Jadi, ingat, ya, Bu-Pak, kalau sedang batuk pilek, jauh-jauh dulu dari si kecil. Untuk ibu, jika harus menyusui, pakailah masker penutup hidung dan mulut.
3. Hindari bepergian ke tempat umum.
Tak jarang orang tua mengajak bayinya berjalan-jalan ke mal, pertokoan, atau tempat umum lainnya. Sebenarnya, kegiatan ini seperti "cari penyakit" saja bagi si kecil. Masalahnya, di tempat-tempat umum seperti mal atau pertokoan terdapat banyak kuman penyakit. Dengan demikian, si bayi bisa saja tertular dari orang dewasa yang tak tampak sakit atau sakitnya ringan.
Perlu diketahui, penularan RSV yang melalui udara disebarkan ketika orang yang terinfeksi bersin-bersin. Saat itu penderita menyemburkan butiran air liur halus (droplet) yang mengandung virus, lalu virusnya berterbangan di udara yang kemudian bisa terhirup oleh bayi. Jadilah si kecil terpapar oleh infeksi kuman tersebut.
Jadi, Bu-Pak, jika ingin jalan-jalan ke tempat umum, lebih baik si bayi tak dibawa serta. Jika tak ada pengasuh di rumah, titipkan sementara ke orang tua atau saudara lain yang tak sedang terinfeksi penyakit menular. Lagi pula, si bayi belum bisa menikmati acara jalan-jalan ke mal, kan?
Martin |
|
|
|
|
Tak Hanya Pada Bayi
Ternyata, bronkiolitis juga bisa diderita oleh anak yang agak besar atau bahkan dewasa. Hanya saja, bronkiolitis pada mereka biasanya tak memberikan keluhan. Pun pada orang dewasa yang mengalami radang paru hampir pasti mengalami bronkiolitis, tapi tak tampak gejalanya secara khusus. "Ini terjadi karena saluran napas mereka relatif besar, hingga saat meradang pun masih bisa dilalui udara pernapasan," jelas Darmawan. Berhubung tak terjadi penyumbatan, maka tak ada keluhan khusus. Beda dengan bayi, karena dia masih sangat kecil, bila bronkiolusnya meradang, akan terjadi penyumbatan aliran udara. Inilah yang menyebabkan mengi dan ekspirasi memanjang.
Martin |
| ________________________________________
Posted at 11:16 pm by Inang Tristan
Permalink
BAYI JUGA BISA SENAM, LO !
Bayi diajak senam? Mengapa tidak? Senam pada bayi tak hanya membantu perkembangan motoriknya, juga membuatnya lebih percaya diri kelak. Tapi, hati-hati, gerakan senam yang salah justru membahayakan tumbuh kembangnya.
Ingin si kecil tumbuh menjadi anak yang lincah dan aktif? Nah, latihlah ia sejak bayi. Salah satu caranya lewat olahraga. Melalui olahraga, anak dilatih menggerakkan anggota tubuhnya sehingga sendi-sendi tulang dan otot-ototnya jadi kuat.
Selain itu, bila sejak kecil selalu aktif bergerak, tak cuma otot yang terlatih, juga saraf-saraf dan keseimbangan tubuh dapat berkembang baik. Malah, sebuah penelitian membuktikan, anak yang banyak berolahraga memiliki kemampuan belajar lebih lama. Ini karena tubuhnya sehat dan bugar, sehingga daya tahan fisiknya lebih kuat. Termasuk daya tahan yang berhubungan dengan konsentrasi.
Senam merupakan salah satu olahraga yang bisa dilakukan sejak usia dini. Menurut dr. Amendi Nasution, Sp.RM dari Bagian Rehabilitasi Medik RSUPN Cipto Mangunkusumo, senam tak hanya berguna menguatkan otot-otot dan melancarkan peredaran darah, juga meningkatkan perkembangan motorik dan koordinasi serta keseimbangan. "Perkembangan motorik yang baik mampu meninggikan tingkat kewaspadaan anak, sehingga mengecilkan kemungkinan terjadinya kecelakaan karena jatuh, terbentur, kehilangan keseimbangan atau ragu-ragu dalam suatu gerakan atau tindakan," jelas dr. Amendi.
Bayi, lanjutnya, perlu diajarkan bagaimana memberi respon lewat stimulasi yang diberikan secara berulang-ulang. Nah, stimulasi yang terbaik ialah kegiatan-kegiatan fisik. "Bayi yang terlatih fisiknya, akan tumbuh dengan kelenturan dan koordinasi lebih tinggi. Jadi, kegunaan paling penting dari senam ialah bayi belajar menggunakan otot-ototnya dengan benar sehingga nantinya bisa membentuk postur tubuh yang baik, yang secara langsung membuat kepercayaan pada diri sendiri juga bertambah," terang dr. Amendi.
Tak hanya itu. Dalam konsep intervensi dini atau stimulasi dini yang banyak dikenal dalam tumbuh kembang balita, senam juga berguna menstimulasi otot-otot agar anak dirangsang melakukan gerakan-gerakan yang seharusnya dapat dilakukan sesuai usianya. "Misalnya gerakan-gerakan senam yang diarahkan agar anak mampu mengangkat kepalanya, tengkurap, dan duduk," papar dr. Amendi lebih lanjut. Karena itu, tambahnya, gerakan senam pada bayi (juga batita dan anak prasekolah) selalu disesuaikan perkembangan motoriknya.
Contohnya, bayi usia 3 bulan mulai mengangkat-angkat kakinya, lalu biasanya dibawa ke mulut, karena ia ingin tahu, seperti apa, sih, rasanya kaki. "Pada usia 3 bulan, indera yang mulai berkembang adalah indera perasa. Dengan demikian, apa pun yang disentuhnya, bayi selalu ingin membawanya ke mulut," kata dr. Amendi. Bayi juga mulai mengangkat-angkat kepalanya. Bahkan mulai bisa tengkurap. "Jadi, gerakan-gerakan senamnya disesuaikan fase tumbuh kembang ini," lanjutnya.
Nah, jika bayi Anda usia 3 bulan ke atas, Anda dapat mulai mengajaknya senam.
Model : Maurizki Dewanto ( 4 bulan ). Konsultan Ahli : dr. Armendi Nasution, Sp.Rm.Foto:Rohedi(nakita)
Santi Hartono
|
Yang Harus Diperhatikan
* Sebelum mengajak bayi senam, pelajari dulu dengan seksama gerakan-gerakan senam yang akan dilakukan. Gerakan yang salah akan membuat cedera otot pada bayi.
* Senam dapat dilakukan dua kali sehari. Saat yang tepat menjelang mandi pagi dan sore. Lakukan selama kurang lebih 15 menit.
* Perhatikan kondisi bayi. Jika bayi sedang panas, demam atau sakit, harus istirahat dulu dari kegiatan olahraganya.
* Bayi dengan kelainan bawaan seperti kelainan jantung, lahir prematur, atau kelainan fisik lainnya, perlu dikonsultasikan lebih dulu dengan dokter sebelum diajak senam.
* Senam pada bayi tak memerlukan peralatan khusus. Cukup letakkan bayi di tempat aman dan lapang. Misalnya, di atas handuk tebal, kasur atau matras yang lembut. Pakaiannya pun tak harus khusus, kenakan saja pakaian sehari-hari.
* Lakukan gerakan senam dengan lembut. Gunakan kesempatan ini untuk bermain bersama bayi. Ajak ia bercakap-cakap dan tertawa bersama. Senam yang dilakukan secara rutin dapat mempererat kasih sayang orangtua dan bayi. Ajak juga sang ayah untuk turut bergabung.
Santi |
|
|
Gerakan-Gerakan Senam Bayi

MEMBUKA
DAN MENYILANGKAN TANGAN |
Senam si kecil dimulai dengan gerakan pemanasan. Caranya dengan berlatih menyilangkan tangan. Letakan ibu jari tangan Anda pada telapak si kecil. Dengan segera ia akan menggenggamnya. Buka kedua lengannya, setelah itu, bawa kedua lengannya ke depan dada, lalu silangkan. Buka lagi, lalu silangkan kembali. Gerakan inijuga berguna untuk menguatkan otot lengan dan punggung. Lakukan hingga 4 hitungan.
|

MENDORONG
KAKI |
Setelah pemanasan, senam dilanjutkan dengan gerakan yang melatih otot kaki terutama di bagian paha. Letakkan ibu jari Anda pada telapak kaki si kecil. Luruskan kakinya, kemudian, dorong kakinya secara perlahan dan lembut ke arah perut. Lakukan hingga hitungan ke empat, bergantian antara kaki kiri dan kanan.
|

MEMBUKA
DAN MENUTUP KAKI |
Perlahan, bukalah kedua kaki si kecil. Tak perlu di luruskan. Lalu tangkupkan kedua kakinya sehingga kedua lutut menempel. Ulangi hingga 4 hitungan. Gerakan ini berguna untuk menguatkan otot-otot seluruh kaki.
|

MENGANGKAT
BADAN |
Gerakan mengangkat badan berguna untuk memperkuat otot leher dan punggung. Pegang kedua tangan si kecil pada bagian lengan hingga siku. Kemudian tarik kedua tangan secara bersamaan hingga bagian atas tubuh si kecil terangkat. Tidak perlu menarik tinggi-tinggi. Rebahkan lalu angkat kembali. Ulangi hingga 4 hitungan |

MENGANGKAT
PINGGUL DAN PANTAT |
Taruh telapak tangan kiri Anda di bagian belakang leher si kecil untuk menyangga lehernya, tangan kanan taruh di daerah pinggul dan pantat. Setelah itu, dengan telapak tangan kanan, dorong pinggul si kecil ke arah atas sehingga pinggul dan pantatnya terangkat. Mendorongnya pun tidak perlu dilakukan tinggi-tinggi. Gerakan ini dapat memperkuat otot-otot di daerah perut, pinggul dan pantat. |

BERGULING
KE SAMPING |
Si
kecil yang sudah belajar tengkurap akan menyukai gerakan ini. Ia pun dapat melatih otot perut, pinggang dan pahanya supaya kuat. Pegang kedua kaki si kecil dengan tangan Anda. Setelah itu, dengan bantuan tangan Anda, gulirkan ia ke samping kiri dan kanan secara bergantian. |

BERMAIN
DENGAN GULING |
Dengan bantuan ayah, si kecil akan bermain dengan menggunakan guling. Gunakan guling besar yang cukup padat namun tetap empuk. Tengkurapkan si kecil di atasnya secara vertikal.Ayah memegang tangan si kecil. Ibu memegang pinggang si kecil. Setelah itu,ayah atau ibu, dengan tangannya yang bebas, menggulirkan guling ke arah depan sedikit saja. Lalu mundurkan kembali. Lakukan gerakan maju mundur ini berulang-ulang.
|

PENDINGINAN |
Akhirnya si kecil selesai bersenam. Badan pun menjadi segar. Lakukan pendinginan setelah selesai bersenam agar otot-otot menjadi rileks kembali. Lakukan gerakan pemijatan.Tengkurapkan si kecil, pijat lembut bagian pinggang, pantat, paha dan kakinya dengan cara menekan-nekan dengan tangan Anda. "Terima kasih ayah-ibu, hari ini aku sudah berolah raga."
|
|
|
______________________________________________
Posted at 11:15 pm by Inang Tristan
Permalink
Siapa bilang bayi tak bisa diajak bermain? Dan itu tak hanya membuatnya senang tapi sekaligus memberi rangsangan bagi tumbuh-kembangnya.
Jika bayi Anda tak tidur, ia pasti akan bermain. Dari menggerakkan jemarinya sampai memasukkan jari kaki mungilnya ke dalam mulutnya. Ia asyik bermain sendiri. Jika diajak main ibu/ayahnya, tangan mungilnya akan berusaha menggapai wajah ayah atau dengan kuat menggenggam jari-jari bundanya.
Kehidupan bayi memang tak bisa dilepaskan dari bermain. Sebab, bermain sangat penting untuk tumbuh-kembangnya. Antara lain, mengembangkan kemampuan pancaindera dan berbagai keterampilan fisik, mengenal orang dan benda di lingkungannya. Juga, bermain menimbulkan kegembiraan. Jika tak ada kesempatan bermain, ia akan bosan dan menangis untuk memperoleh perhatian.
Menurut doktor psikologi Mimi Patmonodewo, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan sebelum mengajak si kecil bermain. Pertama, ketahui ciri-ciri bayi atau tahapan tumbuh-kembangnya mulai dari 0-1 tahun. Sebab, "Konsepnya untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan dalam dirinya, baik kecerdasan, moral, sosial maupun fisik. Jadi, setiap kegiatan bermain maupun alat permainan pada bayi harus selalu diarahkan pada pengembangan aspek-aspek tersebut," jelas staf pengajar di Fakultas Psikologi UI ini.
Kedua, perhatikan kesehatan dan gizi bayi sebelum secara intensif mengajak ia bermain. Menurut Mimi, hal-hal yang bersifat psikologis adalah beyond. Jadi harus didahului oleh kesehatan dan gizi. "Memang betul psikologi penting. Tapi pada usia bayi, yang lebih diutamakan adalah kesehatan dan gizi. Jadi, kita harus yakin anak dalam kondisi sehat dan gizinya baik, baru bisa diajak main. Bila ia tak sehat, diajak main apa pun, ya enggak bisa," tutur Mimi.
Ketiga, sadarilah, tiap bayi berbeda. Ada yang cengeng, susah, tapi ada juga yang gampang. "Perbedaan ini tak bisa dihindari karena perkembangan anak bukan hanya dipengaruhi faktor pengasuhan, juga faktor pembawaan," jelas Mimi.
Dan terakhir, jangan lupa tekankan faktor fun dalam bermain. "Bukan hasil akhir yang dipentingkan," tegas Mimi. Misal, ibu mengajak bayinya yang berusia 10 bulan bermain balok dan berharap si bayi menyusun berselang-seling sesuai warna yang ditunjukkan ibu. Tapi si kecil tak menuruti petunjuk itu. Nah, jangan paksakan anak menuruti "aturan" Anda. Jika ia bisa bicara, mungkin ia akan berkata, "Saya mau susun yang hijau dulu karena hijau lebih bagus." Jika Anda tetap memaksakan kehendak, bisa-bisa si kecil frustrasi dan mogok, tak mau diajak main lagi.
Julie Erikania.Foto:Rohedi(nakita)
|
Jenis Permainan Sesuai Usia
0 - 3 BULAN
Pada minggu-minggu pertama kelahiran, ia dapat melihat suatu obyek dalam jarak pendek, kira-kira 25 cm. Kira-kira 1-2 bulan kemudian, ia mulai dapat mengenal wajah orang dan memberikan reaksi terhadap suara atau senyum.
Penelitian menunjukkan, bayi sangat tertarik melihat wajah manusia ketimbang benda lain. Wajah Anda adalah "mainan" pertamanya. Dekatkan wajah Anda saat menggendongnya atau saat duduk di depan boksnya. Tersenyumlah dan ajak ia bicara. Ia pasti senang.
Tentu saja ia juga perlu benda-benda lain untuk dilihat. Ini penting sebagai sumber utama rangsangan sebelum ia terampil memegang. Gambar-gambar yang jelas, terang, berwarna cerah, yang berkilau seperti silver foil, sangat disukainya. Beri ia cukup waktu untuk merespon sesuatu yang Anda tunjukkan padanya, karena reaksinya masih lambat.
Letakkan benda atau mainan dalam jarak pandang yang dapat dijangkaunya lalu gerakkan benda itu secara perlahan ke kiri dan kanan. Jika matanya tak bereaksi mengikuti gerakan, ia mungkin tak melihat. Sebab itu, pastikan dulu sampai ia kira-kira ada perhatian, baru benda itu digerakkan. Sesuatu yang bergerak dan berbunyi juga disukainya. Gantungkan di boksnya mainan yang bisa bergoyang/berputar dan mengeluarkan bunyi.
Sekitar usia 1-1,5 bulan, ia mulai dapat menghubungkan pendengaran dengan penglihatannya. Jika mendengar suara, ia mulai mencari sumber suara dengan matanya. Seperti penglihatan, ia pun lebih suka mendengar suara manusia, terutama suara ayah-ibunya. Di usia 2 bulan, ia mulai bereaksi dengan bermacam-macam suara. Berbicara, menyanyi, dan membacakan cerita anak-anak dengan berbagai irama akan sangat menyenangkannya.
Saat ganti popok juga bisa dijadikan kesempatan bermain dengannya. Gerak-gerakkan kakinya atau gelitik lembut telapak kakinya. Ia pasti suka. Begitu pun saat mandi, dininabobokan, dan lainnya.
Sentuhan dan usapan Anda di wajah dan seluruh tubuhnya, akan mengembangkan indera perabanya. Ini juga penting untuk mengembangkan rasa diterima dan menumbuhkan rasa percaya diri.
3 - 6 BULAN
Mulai usia 3 bulan, ia suka memiringkan badannya ke satu sisi saat berbaring. Rangsang ia dengan mainan berwarna mencolok atau berbunyi agar ia berusaha menjangkau mainan itu dengan tangannya yang di sebelah atas, sehingga badannya ikut bergerak. Dengan melakukan permainan ini berulang-ulang, akhirnya ia bisa tengkurap sendiri.
Sekitar usia 4 bulan, ia senang sekali bila digendong dalam posisi duduk. Usia 6 bulan, ia dapat duduk tanpa dibantu meski hanya beberapa menit. Dudukkan ia di atas kedua lutut Anda dan pegang kedua lengannya, lalu perlahan sentakkan ia ke atas dan ke bawah. Ia pasti gembira. Sepanjang usia ini, ia suka sekali menyentuh, menggenggam, menggoyangkan dan menarik apa saja. Sediakan mainan yang ringan dan berwarna dengan ukuran pas untuk ia pegang dan genggam. Ia akan lebih suka jika mainannya itu juga bersuara dan taruh di dalam jarak yang bisa ia jangkau.
Beri mainan yang bersuara jika disentuh/ditendang, gantung rendah di boksnya agar kaki kecilnya bisa menendang mainan itu. Untuk mencegah kecelakaan, jangan lupa memindahkan mainan itu segera setelah ia terampil mengangkat kepala dan dadanya (sekitar usia 5 bulan).
Ia sangat menyukai orang-orang dan tertarik dengan gerak tubuh serta ekspresi wajah mereka. Bimbing tangannya yang mungil untuk menyentuh bagian-bagian tubuh Anda sambil menyebutkan nama-nama bagian tubuh itu. Permainan lain yang dapat Anda lakukan, pegang ia pada kedua ketiaknya dan ayunkan ke atas dengan gerakan lembut.
6 - 9 BULAN
Mulai usia 6 bulan, periode waktu bangunnya dalam satu waktu sekitar 2-3 jam, sehingga waktu bermainnya lebih panjang. Saat terjaga, ia tak mau lagi hanya berada dalam posisi tidur telentang. Ia pasti akan berguling dan berusaha duduk atau merangkak. Letakkan mainan kesukaannya dalam jarak tertentu untuk merangsangnya belajar merangkak.
Sekitar usia 8-9 bulan, ia dapat duduk tanpa dibantu, meski belum sepenuhnya dapat menguasai keseimbangan tubuhnya. Banyak bayi belajar duduk dan merangkak secara bersamaan. Umumnya, di usia 10 bulan ia sudah dapat duduk kokoh dan merangkak ke mana pun ia mau.
Di usia ini, ia praktis butuh lebih banyak permainan. Buatkan aneka mainan dari barang-barang yang tersedia di rumah, seperti cangkir plastik, boks sepatu, botol plastik, dan lainnya. Jika ia menolak sebuah mainan yang tak familiar (ini sering terjadi), letakkan di sampingnya dan coba lagi nanti. Beri tahu cara menggunakan sebuah mainan, tapi jangan dorong ia untuk bermain dengan cara yang "benar" karena hanya akan membuatnya frustrasi.
Permainan tanpa alat seperti cilukba atau petak-umpet juga menyenangkannya. Ia akan tertawa gembira saat melihat wajah Anda kembali. Atau dudukkan ia di bahu Anda sehingga ia lebih tinggi daripada Anda. Ia akan gembira oleh pemandangan baru. Atau angkat ia tinggi-tinggi ke udara. Ia pasti senang.
9 - 12 BULAN
Setelah bisa duduk mantap, waktu mandi menjadi waktu bermain yang menyenangkan. Mainan seperti bebek, perahu, gelas dari plastik, bisa digunakan. Dapat juga Anda mengajaknya bermain di halaman dengan menggunakan ember berisi air. Ajak ia memercikkan air, menuangkan air dari gelas dan mengapungkan mainan. Ia pasti senang.
Bermain menangkap bola juga bisa dilakukan setelah ia dapat duduk. Duduklah berhadapan dengannya, lalu gelindingkan bola ke arahnya. Pasangan Anda atau anggota keluarga lain duduk di belakangnya, membantu ia menerima bola dan menggelindingkan kembali ke Anda. Pilih bola dari bahan ringan dengan warna menarik.
Di usia ini, ia senang menjatuhkan sesuatu mainan ke lantai dan Anda mengambilkannya, lalu ia menjatuhkannya lagi dan Anda kembali mengambilkannya. Tentu saja Anda perlu sabar. Karena permainan ini penting baginya untuk belajar mengerti bahwa jika ia menjatuhkan sesuatu, maka benda itu akan tetap berada di bawah. Beri ia benda-benda yang tak dapat pecah atau menggelinding jauh.
Ia pun menyukai permainan mengeluarkan dan memasukkan mainan dari dan ke dalam sebuah wadah. Boks (kardus atau boks plastik) dan beberapa balok warna-warni ukuran 5 cm bisa diberikan padanya. Setelah ia berhasil mengeluarkan semua balok-balok itu, ia akan memasukkannya kembali satu demi satu. Begitu terus berulang-ulang sampai ia puas.
Sekitar usia 10 bulan, ia mulai belajar berdiri. Sebulan kemudian, ia sudah bisa berdiri sendiri dengan berpegangan pada kursi atau tepi tempat tidur. Ini mendorongnya untuk belajar jalan. Acungkan mainan favoritnya untuk mendorongnya belajar berdiri tanpa berpegangan, atau tuntun kedua tangannya saat belajar jalan. Ia pasti senang.
Di usia ini, ia juga senang dinyanyikan, diceritai, dan dibacakan dongeng. Kebanyakan bayi menyenangi siaran radio dan TV dan melihat gambar-gambar. Khusus TV, sebaiknya Anda tak membiasakan ia sering "nonton" TV untuk menghindari kemungkinan ia kelak akan kecanduan nonton.
Julie
|
|
|
Tips Bermain
* Ingatlah, bayi senang memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Pastikan semua mainannya aman. Hindari mainan berujung runcing, mudah patah, mengandung racun (catnya), dan berukuran kecil. Jangan lupa cuci mainan sebelum digunakan.
* Untuk bayi usia 3-6 bulan, cukup beri satu mainan pada satu waktu bermain. Untuk yang berusia 6-10 bulan, beri ia tak lebih dari 5-6 mainan kecil atau 1-2 mainan besar pada satu waktu bermain. Bayi, kata ahli, menyukai benda-benda yang familiar. Jadi, pilihkan mainan-mainan yang agak mirip satu sama lain. Perlu waktu beberapa minggu baginya untuk menunjukkan ketertarikannya pada sebuah mainan baru yang tak mirip dengan banyak mainannya yang lama.
* Beri ia banyak rangsangan dengan menyediakan mainan atau benda-benda untuk memperkaya pengalamannya. Makin banyak rangsangan yang Anda berikan, perkembangannya akan lebih cepat. Ia pun akan kaya pengalaman sebagai bekalnya nanti untuk melakukan problem solving dan berkomunikasi.
* Anda harus kreatif karena tak semua alat permainan tersedia di pasar dan harga kerap jadi masalah. Tak ada salahnya membuat sendiri alat permainan dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di rumah. Bola dari kain yang diisi kapas, buku dari sisa kain, misalnya.
* Bagaimanapun senang dan gembiranya ia bermain bersama Anda, ia perlu istirahat. Kita harus tanggap terhadap isyarat yang ia berikan. Jika ia menangis, mungkin ia sudah lelah.
* Terakhir, yang paling penting, tugas mengajak si kecil bermain bukan monopoli tugas ibu, tapi juga ayah karena perlakuan ayah dan ibu pasti berbeda terhadap anak. Lagipula, merawat dan mendidik si kecil, tugas bersama ayah dan ibu, bukan?
Julie
|
|
______________________________________________
Posted at 11:14 pm by Inang Tristan
Permalink
Jangan salah, lo, bayi sudah bisa diajarkan disiplin. Kendati usianya masih sangat muda, namun seperti kakak-kakaknya, ia juga perlu disiplin.
Tapi disiplinnya bukan disiplin ala militer, lo, yang kalau dilanggar maka si kecil akan menerima hukuman dengan tindakan keras. Disiplin yang dimaksud adalah membentuk suatu pola rutin agar ia dapat hidup teratur dalam kegiatan fisik sehari-hari sehingga bisa mengikuti peraturan-peraturan sosial. Jadi, disiplinnya masih sebatas pada kegiatan fisik. Misal, jadwal tidur dan makan.
Pada beberapa bayi, terang dra. Shinto Adelar, MSi., ritme biologisnya berbeda dengan waktu tidur orang pada umumnya. "Ia aktif di waktu malam namun di waktu siang malah tidur." Nah, ini, kan, enggak bisa dibiarkan. Kalau tidak, orang tua akan capek. Kerja di kantor pun bisa enggak beres dan bukan tak mungkin akan mempengaruhi kehidupan keluarga. Belum lagi dampaknya buat si kecil nanti, misal, saat ia harus masuk Tk. "TK itu, kan, jam masuknya pagi sekitar jam 7 atau 8. Nah, kalau ia tak terbiasa bangun pagi, pasti akan sulit buat dia," jelas psikolog perkembangan dari Fakultas Psikologi UI ini.
JANGAN KAKU
Tentu saja untuk mendisiplinkan bayi diperlukan kiat tersendiri. Dalam hal jam tidur, biasanya bayi akan tertidur bila tubuhnya sudah merasa lelah. Jadi, Bu-Pak, buatlah ia merasa lelah pada jam-jam tertentu dengan mengatur kegiatannya.
Selanjutnya, ciptakan suasana agar ia merasa nyaman dan aman, karena pada umumnya, perasaan itu akan menimbulkan rasa mengantuk. "Memang ini enggak cespleng karena memerlukan latihan, namun lama kelamaan akan terbentuk pola tidur seperti yang diinginkan orang tua," tutur Shinto.
Namun dalam mendisiplinkan bayi, Bapak-Ibu jangan terlalu kaku, ya. Misal, waktu tidur sudah tiba namun ia masih ingin bermain. "Tak ada salahnya orang tua mengikuti kehendaknya lebih dulu." Toh, kita bisa melakukan bermacam strategi. Misal, setelah memberinya kesempatan bermain sebentar, lalu kita telentangkan dia dan mulai memijat lembut kakinya. Lama-lama bila rileks, ia akan tertidur juga.
Begitu juga dalam hal jam makan. Misal, pokoknya jam 9 teng harus makan. Enggak harus begitu, lo, Bu-Pak. "Orang tua juga perlu toleransi karena ada masa-masa bayi rewel dan sulit makan seperti ketika ia sedang tumbuh gigi," lanjut Shinto.
Apalagi bila sebelumnya ia sudah diberi camilan kue atau habis minum susu sehingga masih kenyang, tentulah ia tak mau makan meskipun sudah tiba jam makan. Kesalahan orang tua, menurut Shinto, seringkali hanya ingat bahwa makan berarti makan besar seperti nasi, kentang, atau mi. Jadi, ketika menyusun jadwal makan bayi, orang tua melupakan camilan di antara waktu makan atau minum susu.
Selain jadwal, orang tua juga perlu memperhatikan jenis makanan kesenangan bayi dan jumlahnya, sehingga ia bisa teratur dengan sendirinya. "Tapi tentu harus dengan memperhatikan kondisi bayi, ya, karena ada bayi yang memiliki pencernaan berbeda dengan bayi pada umumnya sehingga takaran makanannya tak bisa disesuaikan dengan bayi-bayi lain." Bayi yang demikian, bila makan dengan takaran biasa akan muntah.
TARIK ULUR
Jadi, Bu-Pak, dalam menerapkan disiplin pada bayi harus selalu ada perkecualiannya. Lagi pula, disiplin itu seni atau ada tarik-ulurnya. Kalau Bapak-Ibu terlalu ingin sempurna, biasanya malah akan mengalami stres atau capek sendiri. Bahkan, bisa-bisa tak dapat menikmati seni membesarkan bayi karena dianggap sebagai beban. "Ada, lo. orang tua yang membesarkan bayi dengan tidak fun karena begitu taat pada peraturan," bilang Shinto.
Padahal, membesarkan bayi harus dinikmati dengan menyadari bahwa semua ada batas-batasnya, termasuk soal disiplin. Misal, tentang kebersihan. "Semua orang tua pasti menginginkan anaknya menyukai kebersihan, tapi bukan berarti bayi harus 'dibungkus' terus dan di larang ke mana-mana, kan?" Toh, terlalu bersih pun enggak sehat karena kehidupan penuh dengan kuman dan bakteri. Kalau ia terlalu bersih dan terlalu dilindungi, daya tahan tubuhnya malah enggak baik.
Selain itu, kalau terlalu bersih juga bisa menghambat proses belajar anak tentang kehidupan yang suatu ketika mungkin diperlukan. Misal, saking ingin bersihnya, si kecil tak boleh main pasir. Padahal, main pasir bisa mengembangkan banyak hal. Ia dapat memahami apa itu pasir, selain akan melatih indra perabanya, "Oh, kalau pasir itu berbutir-butir dan bisa dibuat sesuatu." atau, "Oh, kalau pasir itu diinjak empuk," atau, "Oh, kalau jatuh di pasir enggak lebih sakit bila dibanding jatuh di tempat yang lebih keras," dan sebagainya.
Dengan kata lain, kita harus melihat jangan sampai larangan yang kita berlakukan terlalu kaku sehingga menghambat rasa ingin tahu anak dan membatasi eksplorasinya. Seperti kita ketahui bersama, masa bayi merupakan masa senang-senangnya bereksplorasi. Ketika ia mulai belajar merangkak, misal, ia baru belajar mengenal lingkungannya. Semua tampak menarik baginya. Tapi kalau pada saat bereksplorasi ia melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, tentu ia perlu diberi tahu. Misal, ketika ia sedang menarik kabel telepon atau hendak memasukkan jari-jemari mungilnya ke lubang kipas angin, orang tua harus memberi tahu, "Ayo, enggak boleh," dengan nada tegas. Bahkan bila perlu, ia harus langsung diangkat. Nah, bila hal itu diulang berkali-kali, lama-lama bayi akan mengerti bahwa ia tak boleh menyentuh kabel telepon, tak boleh memasukkan jari-jemarinya ke lubang kipas angin, dan sebagainya.
Kemudian, agar kita tak terlalu banyak melarang bayi, kita bisa menyingkirkan apa saja yang sekiranya dapat membahayakan bayi. Misal, tepi taplak meja yang berjuntai di keempat sisi meja atau barang-barang antik mahal yang dipajang di atas meja, dan lainnya. Bukan berarti semua barang harus disimpan, lo, karena malah akan membuat bayi jadi tak belajar untuk hati-hati.
ADA KONSISTENSI
Sebenarnya, lanjut Shinto, disiplin secara umum memiliki beberapa syarat. Yang pertama, disiplin akan lebih diterima bila berlaku untuk semuanya. "Jadi, aturan tersebut bukan hanya berlaku bagi anak tapi juga orang tua, karena anak meniru apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya termasuk orang tua." Misal, sebelum makan harus cuci tangan dulu. Kalau si kecil disuruh cuci tangan tapi orang tuanya enggak pernah cuci tangan, maka disiplin tak akan efektif. "Bayi dalam arti anak setahunan pun bisa memperhatikan hal ini, lo. Misal, bila kita celupkan atau basuh tangan kita di air, ia pasti ingin ikut menirukan." Jadi, contoh itu perlu, ya, Bu-Pak.
Hal kedua agar disiplin efektif ialah ada konsistensi. Jadi, sekalipun dalam disiplin ada perkecualian, namun jangan terlalu longgar. Hanya pada saat-saat tertentu saja kita boleh melanggar disiplin, misal, pada saat-saat istimewa. Kalau tidak, pelanggaran disiplin harus disertai konsistensi. "Tanpa konsistensi, aturan tak akan tertanam." Misal, sudah tiba waktu mandi namun si kecil memilih bermain. Nah, orang tua jangan diam saja atau hanya berkata, "Ayo, mandi" tanpa ada tindakan apapun. "Anak akan belajar, kalau ibu bilang mandi berarti masih bisa ditawar; jadi enggak perlu segera dilaksanakan. Beda jika ibu bilang sekarang mandi dan anak langsung dibawa ke kamar mandi." Kendati masih bayi, si kecil bisa mengerti, lo.
TAK MEMUKUL
Namun dalam menerapkan konsistensi bukan dengan cara memukul, ya, Bu-Pak. Si kecil bukan binatang sirkus yang enggak punya pikiran. Ia tak akan secara otomatis menurut bila dipukul karena setiap dilarang sesuatu, ia malah akan bertanya mengapa sesuatu tak boleh dilakukan. Misal, "Kipas angin itu menarik sekali tapi kenapa aku enggak boleh memegangnya?", atau "Kenapa Kakak boleh main korek api sedangkan aku enggak boleh?" Bagi anak yang belum bisa berbicara dengan benar, ia tak bisa mengungkapkan perasaannya, bukan?
"Nah, orang tua suka lupa akan hal ini. Kadang mereka berpikir, anak adalah orang dewasa. Padahal, segala sesuatu yang dilakukan anak masih belajar. Berjalan pun masih belajar, apalagi berbicara," tutur Shinto. Jadi, tak perlu memaksakan disiplin dengan kekerasan, ya. Bapak-Ibu tentunya tak ingin si kecil jadi seperti robot atau lumba-lumba yang selalu menurut apa yang diminta, kan?
Memukul, menurut Shinto, banyak enggak bagusnya. Apalagi kalau memukul anak dengan kuat, bisa membahayakan si anak. Begitupun bila terlalu sering memukul anak, "ambang toleransi anak pada pukulan akan semakin tinggi. Hasilnya, pukulan tak lagi efektif untuk membentuk tingkah laku." Atau, karena menyakitkan, anak malah jadi benci pada orang yang memukul dan tak ada rasa hormat. Kecuali itu, "anak juga enggak akan jadi bahagia karena merasa tak disayang." Lebih parah lagi, nantinya kalau ia berkeluarga cenderung akan menerapkan cara-cara seperti yang diterapkan orang tuanya.
Jadi, Bu-Pak, syarat selanjutnya dalam disiplin adalah sikap empati. Cobalah menempatkan diri Ibu-Bapak pada posisi anak, bagaimana rasanya pada waktu menjadi anak. Bukan berarti anak boleh melakukan apa saja, lo. Bila ia sudah keterlaluan, orang tua bisa keras tapi enggak melakukan tindakan fisik. "Marah dengan nada keras diperlukan kalau memang anak enggak memperhatikan atau si bayi tengah melakukan hal berbahaya sekali. Jadi, untuk menarik perhatiannya diperlukan nada keras agar ia segera menghentikan kegiatannya yang berbahaya itu."
Tapi kalau memukulnya pelan, misal, menyentuh tangan bayi sambil berkata, "Ayo, enggak boleh", menurut Shinto, boleh-boleh saja. Toh, tujuannya untuk memperkuat atau menarik perhatian anak agar ia tak melakukan hal yang berbahaya.
Nah, sudah lebih jelas, kan, Bu-Pak? Faras Handayani
|
MENGERTIKAH BAYI BILA DIMARAHI ?
Menurut Shinto, bayi usia 6 bulan bisa memberikan respon seperti terkejut bila orang tuanya marah dengan suara keras. "Hal itu tak akan menyenangkan baginya. Tapi kita tak tahu, apakah yang membuatnya tak nyaman atau menangis adalah frekuensi atau nada suara yang keras ataukah memang perasaan si bayi yang sedih karena dimarahi." Tapi kalau menangis dijadikan sebagai ukuran apakah bayi mengerti bila dimarahi atau tidak, maka jawabannya ya.
Yang jelas, kalau orang tua terlalu sering memarahi bayi, saran Shinto, sebaiknya segera berkonsultasi dengan ahli untuk mencari penyebabnya. "Kadang, orang tua memarahi anak lantaran si anak mirip dengan orang yang tak disenangi." Misal, kita lagi sebal sama pasangan, lalu anak kita yang wajahnya mirip dengan pasangan jadi kena sasaran kemarahan kita. Apalagi bila si kecil mirip dengan mertua yang tak disukai orang tua, duh, kasihan sekali. "Jangan sampai si anak dikatai macam-macam sampai membawa nama orang lain segala. Misal, 'Kamu ini seperti nenek begini-begini,'." Kan, kasihan si kecil yang enggak ngerti apa-apa. Ingat, lo, si kecil enggak salah apa-apa. Jadi, jangan sering dimarahi, ya, Bu-Pak. |
Posted at 11:13 pm by Inang Tristan
Permalink
Jangan Abaikan Ukuran Lingkar Kepala
Soalnya kelainan pada ukuran lingkar kepala bisa mempengaruhi kemampuan otak si bayi. Hal ini tentu akan berpengaruh pada seluruh aspek perkembangan bayi.
Pada umumnya orang tua tak memperhatikan ukuran lingkar kepala bayi. Biasanya yang menjadi perhatian orang tua hanyalah berat badan si bayi, apakah si bayi sehat atau tidak, normal atau tidak, bagaimana pemberian makannya dan sebagainya. Namun sama sekali tak pernah terlintas di benak orang tua untuk menanyakan, "Berapa sekarang ukuran lingkar kepala bayi saya, dok? Apakah normal?"
Padahal, seperti diterangkan Dr. Dwi Putro Widodo, Sp.AK, MMed., ukuran lingkar kepala juga tak kalah penting. Sebab, "Ukuran lingkar kepala berkaitan dengan volume otak," jelas staf neurologi anak RSUPN Cipto Mangunkusumo ini. Jadi, bila ukuran lingkar kepala si bayi tak pernah dipantau, maka orang tua tak akan pernah tahu apakah ukurannya normal atau tidak.
BERTAMBAH SESUAI USIA
Ukuran rata-rata lingkar kepala bayi ketika lahir adalah 34-35 cm. Lingkar kepala ini akan bertambah 2 cm per bulan pada usia 0-3 bulan. Selanjutnya di usia 4-6 bulan akan bertambah 1 cm per bulan, dan pada usia 6-12 bulan pertambahannya 0,5 cm per bulan.
Jika ukuran lingkar kepala bayi lebih kecil daripada ukuran normalnya, maka disebut kelainan mikrosefali. Sebaliknya, bila ukuran lingkaran kepala si bayi lebih besar daripada ukuran normalnya, dikatakan kelainan makrosefali. "Perbedaannya sebesar 2 standar deviasi dari ukuran normal," jelas Dwi Putro.
Biasanya kelainan mikrosefali dan makrosefali dibawa sejak lahir. Namun ada juga kasus-kasus mikrosefali atau makrosefali yang familial atau normal. Nah, yang normal ini biasanya orang tua si bayi juga memiliki lingkar kepala demikian. Misal, bayi dengan kelainan makrosefali, ternyata orang tuanya juga makrosefali. Itulah mengapa Dwi Putro menganjurkan, "Bila si bayi ukuran lingkar kepalanya di bawah atau di atas ukuran normal, maka sebaiknya diukur juga lingkar kepala orang tuanya."
Selain faktor familial, juga harus diperhatikan apakah ada-tidak kelainan saraf. "Kalau tak ada kelainan saraf, maka hal ini normal-normal saja, terutama untuk kelainan makrosefali," terang Dwi Putro.
NON FAMILIAL
Menurut Dwi Putro, hanya sebagian kecil kasus makrosefali yang familial. "Sebagian besar lainnya adalah makrosefali non-familial yang ada sebabnya. Misalnya, hidrosefalus, yaitu kepala besar karena cairan di dalam otaknya berlebihan. Atau bisa karena faktor-faktor lain seperti adanya tumor."
Karena itulah, ujar Dwi Putro, si bayi dengan kelainan makrosefali harus pula dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan. Sekalipun fisik si bayi bagus dan orang tuanya juga berkepala besar. "Sebab, kita, kan, tak bisa melihat fungsinya yang di dalam. Apalagi jika si bayi baru berusia 1 bulan, misalnya, fungsinya masih belum begitu tampak." Biasanya dengan pemeriksaan USG atau CT-scan akan bisa diketahui, misalnya, apakah memang ada kelebihan cairan di dalam otak.
Sedangkan kelainan mikrosefali bisa disebabkan gangguan perkembangan dan infeksi pada waktu ibu hamil seperti infeksi TORCH (toksoplasma, rubella, sitomegalo virus, dan herpes). "Bisa juga karena gangguan secara keseluruhan, pertumbuhan fisik dan lain-lainnya tak sempurna." Misal, bayi yang lahir kecil, dengan sendirinya kepalanya akan kecil. Atau karena faktor gizi atau ibu sakit sehingga nutrisi ke bayi kurang. Dengan sendirinya semua bagian tubuh si bayi juga akan kurang. "Ada juga yang fisiknya bagus dan hanya kepalanya saja yang kecil."
Yang juga harus dilihat pada kelainan mikrosefali adalah seberapa besar perbedaan ukuran lingkar kepala dibandingkan ukuran kepala yang normal. "Karena ini bisa mempengaruhi kemampuan otak bayi. Kalau perkembangan otak nggak sempurna, dengan sendirinya kemampuan masing-masing bagian otak juga nggak sempurna. Ini akan berpengaruh pada kemampuan intelegensi, kemampuan motorik, kemampuan emosi, sosial, dan sebagainya."
2 TAHUN PERTAMA
Selama dua tahun pertama, terang Dwi Putro, merupakan masa penting. Karena proses perkembangan otak berlangsung sangat cepat selama masa tersebut. "Berat otak pada waktu lahir rata-rata 350 gram. Pada usia 1 tahun, volume otak 1000 gram dan pada usia 2 tahun beratnya 1200 gram." Sedangkan volume otak orang dewasa hanya 1400 gram pada pria dan 1250 gram pada wanita. "Jadi bisa dibayangkan, dalam waktu 0 sampai 2 tahun, perkembangan otak luar biasa."
Itulah mengapa Dwi Putro menganjurkan agar setiap kali imunisasi, ukuran lingkar kepala si bayi juga harus dikontrol. "Apabila pada saat kontrol diketahui lingkar kepala si bayi ukurannya sudah di bawah atau di atas garis normal, sebaiknya segera harus dieksplorasi," katanya.
Selain itu, dalam fase ini orang tua juga harus menjaga agar jangan sampai si bayi mengalami kelainan atau penyakit yang bisa merusak sel-sel otak. Misal, infeksi radang otak, hidrosefalus, tumor, infeksi susunan pusat yang lain, benturan, dan sebagainya. "Ini semua bisa menghambat perkembangan otak," tukasnya.
Yang tak kalah penting ialah melakukan pencegahan sejak dini untuk menghindari terjadinya kelainan-kelainan di atas. Misalnya, konseling sebelum menikah dan sejak merencanakan untuk punya anak. "Lakukan kontrol secara teratur. Sehingga kalau ada kelainan bisa dideteksi sedini mungkin." Misalnya, infeksi TORCH. Selain rajin kontrol, sang ibu juga harus bisa menjaga kesehatan dan makanan yang dikonsumsinya selama hamil. "Kalau ini dilakukan secara teratur, dengan sendirinya tumbuh kembang bayi akan sempurna," ujar Dwi Putro. Hasto Prianggoro . Foto : Rohedi (nakita)
|
Si Kepala Air
Kepala air atau hidrosefalus merupakan suatu gejala dari berbagai proses di dalam kepala yang menyebabkan terkumpulnya cairan otak secara berlebihan di dalam rongga ventrikel pada otak. "Penyebabnya antara lain, terganggunya aliran cairan otak karena penyumbatan, penyerapan kembali cairan otak yang tak memadai di dalam kepala, atau karena produksi cairan otak yang berlebihan," terang Dr. Dwi Putro Widodo, Sp.AK, MMed.
Hidrosefalus dibagi 2, yaitu hidrosefalus non-komunikans (tersumbat) dan hidrosefalus komunikans. Hidrosefalus non-komunikans terjadi karena ada penyumbatan di tempat tertentu di dalam otak, di jalan sempit yang dilalui cairan otak waktu mengalir keluar dari rongga ventrikel otak. "Ini biasanya karena kelainan bawaan, tumor, dan infeksi."
Sementara hidrosefalus komunikans disebabkan penyerapan cairan otak yang tak memadai di tempat penyerapannya (rongga subarahnoid). "Penyebabnya bisa karena kelainan bawaan atau didapat, misalnya setelah sakit radang selaput otak (meningitis) atau perdarahan di bawah selaput otak."
Produksi cairan otak yang berlebihan dapat disebabkan karena tumor, meski jarang. Beberapa infeksi di dalam kandungan juga dapat menyebabkan terjadinya hidrosefalus. Biasanya infeksi ini terjadi pada kehamilan muda sampai trimester kedua.
Gejala yang dapat ditemui pada seorang anak dengan hidrosefalus tergantung penyebabnya serta umur penderita. "Bila penyebabnya kelainan bawaan, gejalanya didapati saat belum lahir atau pada masa bayi." Bila gejala timbul saat bayi di kandungan, bayi tak dapat lahir tanpa pertolongan khusus. Bahkan, kadang-kadang sudah meninggal di kandungan.
Bila gejala timbul pada masa bayi, tampak pertumbuhan lingkar kepala yang cepat membesar. Karena itu, penting sekali pengukuran besar lingkaran kepala bayi secara periodik untuk dibandingkan dengan standar normal besar lingkar kepala.
Sebelum penderita berusia 2 tahun, gejala utama hidrosefalus biasanya adalah pembesaran kepala. "Bila terjadi setelah usia 2 tahun, pembesaran kepala tak jelas lagi karena sutura kepala telah rapat. Yang tampak adalah gejala saraf lain karena adanya tekanan di dalam kepala yang meningkat," jelas Dwi Putro.
Gejala hidrosefalus sebelum didapatinya ukuran kepala yang membesar ialah bayi mengalami kesulitan dalam menerima makanannya, mudah menangis, muntah-muntah, dan perkembangan yang terlambat. Kemudian, ubun-ubun memonjol dan tegang, pembuluh darah balik (vena) kepala membesar, mata tampak seperti matahari terbenam dan sering disertai juling, perbandingan besar kepala yang tak sesuai (dahi sangat lebar, bentuk kepala seperti segitiga terbalik), dan akhirnya kepala tampak membesar sekali. "Kepala ini kalau diketuk seperti suara pot pecah," ujarnya.
Pada keadaan ini, lanjut Dwi Putro, "Biasanya anggota gerak, terutama tungkai bawah/kaki menjadi kaku, kesulitan makan bertambah, dan anak menjadi lemah secara progresif." Tetapi, banyak juga penderita hidrosefalus yang tak menunjukkan gejala-gejala ini sampai jelas tampak adanya kepala yang membesar secara nyata. "Kalau ditemukan gejala-gejala seperti ini, sebaiknya segera bawa ke dokter, supaya dapat dilakukan pemeriksaan secara teliti," ujar Dwi Putro.
Hasto |
| ______________________________________________
Posted at 11:12 pm by Inang Tristan
Permalink
Kala si kecil Masuk Angin
|
KALA SI KECIL "MASUK ANGIN"
Duh, rewelnya! Tapi benarkah si kecil cuma "masuk angin"? Hati-hati, lo.
Balurin aja sama bawang merah dan minyak kelapa. Paling cuma 'masuk angin', kok," begitu biasanya komentar orang tua kita kalau bayi kita alias cucunya rewel terus.
Istilah "masuk angin" memang sudah sangat populer di kalangan orang kita. Kendati di kamus Bahasa Indonesia maupun kamus kedokteran tak ada tertulis istilah tersebut. "Biasanya yang dimaksud awam sebagai 'masuk angin' adalah bila seorang anak berubah tingkah lakunya dalam hal kesehatan," tutur DR. Sri Rezeki H. Hadinegoro, Dr., Sp. A (K) dari RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Misalnya, bayi yang biasanya anteng menjadi rewel sementara orang tua menilai si bayi sudah kenyang. "Kalau sudah begitu, ibunya bingung, kenapa ini bayi, kok, rewel terus. Oh, mungkin 'masuk angin'." Padahal kerewelan tersebut belum tentu lantaran penyakit. "Mungkin saja si bayi merasa gerah, kedinginan atau barangkali kelelahan karena baru dibawa pergi."
Perubahan tingkah laku lain yang merujuk pada "masuk angin" ialah bayi tak mau makan, perutnya kembung, muntah atau bahkan diare tapi tak terlalu hebat. Misalnya, tinja si bayi menjadi lembek atau yang biasanya buang air besar dua kali sehari kini menjadi tiga kali. "Tapi anaknya, kok, tenang-tenang saja, malah main terus. Nah, gejala seperti ini biasanya disebut ibu-ibu sebagai 'masuk angin'."
GEJALA AWAL
Sebenarnya, terang Sri, "masuk angin" merupakan gejala penyakit yang masih harus dicari diagnosisnya secara lebih mendalam. "Jadi, 'masuk angin' masih merupakan gejala awal dari suatu penyakit." Oleh karena itu, pada awalnya dokter mungkin belum bisa mendiagnosis apa-apa. Tapi setelah diperiksa lebih mendalam barulah diketahui, oh, ternyata si bayi menderita campak, misalnya. Atau penyakit lain seperti pencernaan terganggu, diare yang hebat, dan sebagainya.
Kadang, lanjut Sri, "masuk angin" juga menunjukkan bahwa si bayi terkena infeksi virus, "tapi yang sangat ringan." Penyakit yang disebabkan virus, terangnya, memiliki ciri tersendiri, yaitu self limiting disease atau suatu penyakit yang akan sembuh sendiri tanpa perlu diobati. "Jadi bila jumlah virus yang masuk ke tubuh hanya sedikit, maka tubuh akan kuat memeranginya. Karena bila virus yang masuk hanya ringan sedangkan daya tahan tubuh dalam keadaan prima, maka penyakit pun akan hilang dengan sendirinya," terang staf Pengajar Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI ini.
Adapun yang diobati dari penyakit virus yang ringan ini ialah gejalanya. Misalnya, pusing diobati dengan obat pusing. Kalau demam, maka obatnya adalah obat demam. Atau, kalau enggak minum obat, kita cukup minum jamu, vitamin, atau makan buah-buahan. Dua-tiga hari kemudian juga sudah sembuh sendiri, badan kita kembali segar. Tapi pengobatan yang demikian bukan untuk bayi, lo. Pengobatan tersebut hanya boleh diberikan kepada orang dewasa atau anak yang sudah besar. Kalau bayi, pengobatannya lain lagi, tapi tetap bisa diobati sendiri.
OBAT TRADISIONAL
"Masuk angin", terang Sri, bisa diobati sendiri oleh orang tua. Misalnya, dengan diberi minum obat penurun panas kalau si bayi badannya mulai anget-anget. Namun pengobatan sendiri secara oral hanya boleh dilakukan untuk bayi berusia 6 bulan ke atas. "Kalau bayinya berusia di bawah 6 bulan, jangan berikan obat oral tanpa sepengetahuan dokter," pesan Sri.
Selain itu, boleh juga tubuhnya dibaluri dengan obat-obatan tradisional seperti bawang merah yang dicampur minyak kelapa atau minyak telon. "Fungsi obat tradisional tersebut sebenarnya sama saja dengan minyak penghangat, yaitu untuk menghangatkan tubuh," ujar Sri. Bawang merah, terangnya, akan merangsang pembuluh-pembuluh darah kecil dan saraf di kulit bayi, sehingga sirkulasi darahnya menjadi lebih aktif. "Kalau sudah begitu berarti pertukaran oksigennya juga lebih banyak. Jadi diharapkan setelah digosok, zat-zat yang melelahkan itu cepat dibuang hingga akhirnya kita jadi lebih segar," terangnya lebih lanjut.
Namun orang tua perlu berhati-hati ketika membalurkan bawang merah pada bayi. Kendati efek bawang merah tak sampai masuk ke tubuh, tapi bila cara membalurkannya terlalu keras dan terlalu dalam, maka kulit bayi bisa menjadi hitam dan mengelotok. Oleh sebab itu, anjur Sri, bawang merah sebaiknya tak digunakan pada bayi berusia 6 bulan ke bawah. "Bawang merah sebaiknya hanya digunakan pada bayi yang sudah berusia 6 bulan ke atas karena daya tahan tubuhnya sudah lebih baik. Para ibu juga harus kira-kira kalau menggosok bayinya, jangan terlalu bersemangat karena nanti kulit malah jadi rusak." Sementara untuk bayi usia di bawah 6 bulan, anjurnya, berikanlah cairan yang sifatnya tak terlalu panas seperti minyak telon.
JANGKA WAKTU TIGA HARI
Apabila setelah dicoba diobati sendiri, namun gejala tetap berlanjut dalam tiga hari, berarti bayi harus segera diperiksakan ke dokter. Ingat, "masuk angin" hanya merupakan gejala awal dari suatu penyakit yang mungkin saja lebih serius. "Kalau tiga hari diobati tapi tak ada perbaikan sama sekali, misalnya, perut masih tetap kembung, buang air besarnya masih lembek terus, muntah dan demamnya masih hilang-timbul, atau rewelnya masih terus, maka sebaiknya bayi dibawa ke dokter," kata Sri.
Jangka waktu tiga hari ini tentu saja bukan patokan baku. Jadi, bila sebelum tiga hari namun gejala yang diderita bayi makin menghebat, tentunya orang tua harus langsung membawa si bayi ke dokter. Misalnya, demam si bayi semakin tinggi bahkan disertai kejang atau setiap makan terus muntah atau mencret, "nah, ini jangan ditunggu-tunggu lagi, harus dibawa ke dokter. Pokoknya, kalau ada keluhan memberat dalam tiga hari harus cepat-cepat dibawa ke dokter. Karena itu jelas bukan 'masuk angin' lagi," tutur Sri.
Khusus muntah, jelas Sri, apabila hanya terjadi satu atau dua kali dan tidak disertai demam, sebenarnya tak selalu memerlukan obat. Karena hal itu bisa disebabkan oleh teknik memberi ASI atau memberi susu botol yang kurang tepat. "Kalau memberi ASI sebaiknya jangan sambil tiduran, karena payudara ibu menjadi miring. Kalau miring berarti ada udara. Nah, udara ini nantinya bisa terisap si bayi. Akibatnya, bayi jadi gampang muntah."
Begitu pula halnya dengan pemberian susu botol, tekniknya harus tepat. "Posisi botol jangan separuh miring tapi harus benar-benar menungging sehingga botol penuh dengan susu. Kalau posisi botol miring akan terisi udara, sama halnya dengan memberi ASI sambil tidur akan membuat bayi menjadi muntah," lanjut Sri.
Penyebab lain dari muntah ialah jangka waktu yang berdekatakan ketika memberi susu. Biasanya jarak yang sering menjadi patokan adalah dua jam. Nah, bila dalam selang waktu tersebut si bayi sudah diberi susu lagi maka lambungnya masih penuh. Tak heran kalau susu akhirnya tumpah keluar dalam bentuk muntah.
Selain itu, susu yang sudah basi (susu botol) atau cara penyajiannya yang kurang higienis juga bisa membikin bayi muntah.
Faras Handayani . Foto : Rohedi (nakita) |
|
Hati-hati Membawa Bayi Bepegian
Banyak orang tua yang merasa bayinya "masuk angin" setelah diajak berpergian, lantaran si bayi rewel terus. Padahal, seperti dituturkan DR. Sri Rezeki, penyebab kerewelan tersebut ialah perubahan hawa, perubahan lingkungan dan kelelahan. "Bisa dibayangkan kalau bayi dibawa dari Jakarta ke Bandung. Dia digendong dalam pelukan terus. Itu, kan, enggak rileks. Kita saja kalau duduk diam terus jadi enggak rileks. Nah, bayi juga begitu."
Belum lagi jika di kendaraan umum ada yang merokok atau mungkin sakit flu, sehingga lingkungan yang dihirup si bayi juga tak sehat. Itulah mengapa Sri menganjurkan agar orang tua sebaiknya tak membawa pergi bayi, terutama bayi yang masih terlalu kecil atau berusia di bawah 3 bulan. Karena terangnya, "Bayi usia tersebut masih belum memiliki daya tahan sebaik bayi yang berusia di atasnya, sehingga lebih gampang 'masuk angin'."
Jikapun orang tua tetap ingin membawa pergi si bayi, anjur Sri, janganlah si bayi dipangku selamanya, "tapi juga ditidurkan." Untuk itu, sediakan space khusus di kendaraan agar si bayi bisa tidur. "Tapi harus dijaga, ya, jangan sampai si bayi terpental, karena dia, kan, tidak menggunakan car seat." Car seat adalah alat yang bisa membantu bayi duduk/berbaring dengan nyaman dalam mobil selama perjalanan.
Sri juga menganjurkan agar orang tua sebaiknya memilih bepergian dengan menggunakan kereta api daripada bus, bila tak ada kendaraan pribadi. Sebab, kereta api goncangannya tak banyak dan space-nya pun lebih longgar ketimbang bus. "Tapi kalau memang harus naik bus, sebaiknya bayi dikasih vitamin agar daya tahannya lebih baik," anjur Sri lagi.
Selain itu, tambah Sri, orang tua juga perlu melakukan tindakan preventif terhadap bayi dari orang-orang di sekelilingnya. "Biasanya kalau bayi dibawa pergi, seringkali orang banyak yang mencubiti dan menciuminya karena gemas. Sebaiknya hal itu enggak usah terjadi, deh." Jadi kalau ada orang dekat-dekat dengan si bayi, katakan saja secara sopan, "Bayi saya agak rentan, jadi jangan dicium dulu."
Hani |
Posted at 11:11 pm by Inang Tristan
Permalink
|